 Suatu hari salah satu sahabat saya posting status di akunnya di salah satu social network site. Ga ada yang aneh, teman saya bercerita tentang penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Salah satu teman yang lain lalu menulis komentar dibawahnya "semoga sakitnya menjadi penggugur dosa2nya dimasa lalu ya"
Saya terus terang kaget baca komentar seperti itu. Bukan pertama kali nya juga mendengar atau baca komentar seperti itu. Tapi perasaan keberatan dalam hati saya atas pernyataan seperti itu tentunya tidak bisa saya bohongi. Is that suppose to make he/she feels better?
Mungkin si penulis bermaksut baik dan membantu memulihkan kondisi psikologis orang sakit dengan melihat sisi positif dari kondisi sakit itu sendiri. Tetapi buat saya itu bukan kata2 yang bijak atau enak didengar. Karna dengan memberi statement seperti itu, secara tidak langsung mau bilang dosa2 yang bersangkutan banyak makanya dikasih penyakit yang tak kunjung sembuh. Sukur2 yang bersangkutan tak sampai depresi kalau terus ingat bahwa saking buanyak nya dosanya maka penyakitnya ga sembuh2.
Penyakit datang karna kita memang kurang telaten menjaga kesehatan, karna apa yang kita alami hari ini adalah efek/dampak/impact dari apa yang kita lakukan dimasa lalu. Sebagai manusia kita dibekali akal untuk mempelajari alam ini termasuk tubuh kita sendiri. Dengan bekal akal tersebut kita belajar bagaimana seluruh sistem didalam tubuh kita bekerja, apa saja yang bisa mengganggu kerja sistem (virus, bakteri dsb), apa yang harus dilakukan jika sistem kita mengalami gangguan (curative) termasuk apa yang bisa kita lakukan untuk memproteksi dan memaintain agar sistem tetap bekerja dengan baik.
Lalu apakah fakta bahwa ada penyakit yang belum ada obatnya menjadi salah satu indikasi bentuk kemarahan tuhan akan dosa manusia? Buat saya bukan. Saya percaya semua penyakit ada obatnya. Kalau hari ini ilmu kita belum sampai ke titik menemukan obatnya, mungkin nanti dimasa depan. 200-300 tahun lalu ketika belum ada vaksin bcg dan polio, dengan datang wabah penyakit tersebut, maka ratusan populasi manusia ikut terhapus. Dan saat itu juga tidak sedikit orang melihat hal tersebut sebagai bentuk hukuman dari tuhan. Lalu apakah sekarang ketika vaksin beragam penyakit sudah ada artinya tuhan sudah tidak marah lagi?
Apakah penyakit datang sebagai penghapus dosa? Entahlah. Siapa yang bisa memberi jaminan akan itu? Dosa dan pahala adalah hak prerogatif yang Maha Kuasa, bukan kita. Saya tidak menafikan kuasa Tuhan yang maha luar biasa itu. Tetapi Tuhan juga bukan monster yang seenaknya saja membasmi makhluk2nya ketika sedang bad mood. Konsep berpikir positif dan berprasangka baik sya pikir juga berlaku disini.
Sebagai manusia, tugas kita adalah belajar dan menggunakan ilmu yang kita pelajari tersebut untuk berkontribusi kepada alam semesta ini.Kalau sudah berilmu seyogyanya kita juga lebih bijak menjaga kesehatan kita sendiri dan lebih baik lagi kalau hal itu extended ke lingkungan disekitar kita. Kalau sakit ya segeralah berobat dan tentu saja berdoa supaya usaha penyembuhannya berhasil.
Semoga semua yang saat ini tengah sakit segera sembuh ya!
Labels: what I had in my mind... |
Yang sakit yang ber"dosa" karena tidak menjaga kesehatannya.
Yang belajar dari kejadian (istilah kerennya "orang2x yang tidak merugi") terbebas dari hukuman "dosa" karena mereka bekerja membuat dunia lebih baik.. menjaga dan mencari solusi.. salah satunya menemukan vaksin2x tsb.
Buat "orang2x yang merugi" yang tidak mau belajar padahal telah diberi kemampuan dan sumberdaya untuk berbuat lebih baik, akan mendapatkan hukuman dari "dosa2x" itu. Misalnya, saat ini wabah penyakit A (banyak korban).. 5 tahun kemudian wabah penyakit A lagi (banyak korban karena belum ditemukan jamunya karena memang tidak mencari).. 5 tahun kemudian, lagi2x wabah penyakit A lagi(banyak korban karena belum ditemukan jamunya karena memang tidak mencari).. dan begitu seterusnya.. alasan tidak mencari solusi adalah karena ini semata hanya siksa dari -Nya untuk menebus dosa kita.. (ironis, karena kebesarannya digunakan sebagai alibi untuk tidak berusaha)